scrabble steve job

Prinsip Tip dan Trik Utama Belajar Bahasa Asing

Tips Bahasa

Ingin Tahu Trik Utama Belajar Bahasa Asing ? Dibaca hingga selesai ya biar dapet ilmunya.

PRINSIP 1: Motivasi belajar yang benar
Mengapa lo memutuskan belajar bahasa asing? Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan tentang motivasi ini kesannya sepele padahal sangat signifikan pada proses belajar bahasa asing yang akan lo jalani. Jika sejak awal motivasi belajar lo tidak didasarkan pada hal yang tepat, itulah yang menyebabkan banyak pembelajar berhenti di tengah jalan. Namun, jika dasar motivasi belajar lo tepat, lo akan jauh lebih konsisten terhadap komitmen belajar lo.

Nah, berdasarkan pengalaman gue sebagai guru bahasa asing, gue mengkategorikan golongan-golongan motivasi pembelajar ke sebuah kuadran. Ada 4 karakteristik dalam kuadran tersebut, yaitu ideologis, praktikal, integratif, dan instrumental.

Kuadran I: Praktikal-Instrumental

Pada kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing biasanya berasal dari faktor eksternal berupa tuntutan, perintah, paksaan, atau keharusan. Misalnya karena tinggal di luar negeri, maka harus belajar bahasa negara tersebut untuk bisa bertahan hidup. Bisa juga motif belajarnya karena perintah atau paksaan dari figur otoritas, misalnya orang tua atau dari guru. Tidak jarang orang tua atau guru yang ikut andil dalam menentukan arah belajar bahasa asing seorang pembelajar.

“Pokoknya kamu harus bisa bahasa Mandarin ya. Biar nanti gampang nyari kerja & mudah mencari relasi bisnis” – orang tua / guru
Terlepas bahwa menguasai bahasa itu penting secara praktikal, tapi biasanya motivasi yang didasari oleh keterpaksaan atau perintah dari orang lain, tidak akan membuat seorang pembelajar berkomitmen dalam jangka panjang. Hayo, ada yang berhenti belajar bahasa di tengah jalan karena sumber motivasinya disuruh orang lain?

Mereka yang dasar motivasi belajarnya karena perintah orang lain, tidak hanya akan bermasalah dalam komitmen dan konsistensi, tapi juga proses belajar mereka cenderung acak-acakan. Kalo dari awal motivasinya udah lemah, cara belajarnya lemah, ya wajar saja banyak yang tidak berkembang dan jadi berhenti di tengah jalan. ?

Kuadran II: Praktikal-Integratif

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing hanya didasarkan pada fungsi kepraktisan kasual dalam memahami bahasa tersebut. Biasanya mereka yang berada di kuadran ini belajar bahasa asing, karena dorongan motivasi hobi kasualnya, misalnya hanya supaya bisa mengerti percakapan dalam bahasa asing, bisa baca komik, main video games, nonton drama/film, atau sekadar paham lirik-lirik lagu dari bahasa tersebut.

Biasanya mereka yang belajar atas dasar motivasi ini, penguasaan materinya juga cukup acak, bahkan bisa juga hanya bertumpu pada satu karakteristik yang itu-itu saja, karena biasanya referensi pembelajarannya banyak meniru dari sumber yang terbatas seperti drama/film/animasi, game, dll.

Kuadran III: Ideologis-Instrumental

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kesukaan terhadap bahasa tersebut. Biasanya dorongan belajarnya didasari oleh motivasi positif, bahwa dirinya memang menyukai bahasa tersebut, merasa pengucapan bahasa tersebut terdengar indah, melihat karakter bahasa tersebut keren, atau penguasaan bahasa tersebut mendukung cita-citanya. Pada tahap ini, biasanya pembelajar memerhatikan aspek fungsional yang tepat dan didorong oleh motivasi positif.

Kuadran IV: Ideologis-Integratif

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kecintaan yang mendalam terhadap bahasa tersebut, dinamika budaya, aspek sosial, maupun historis dari penutur bahasa asing tersebut. Motivasi yang didasarkan pada kuadran ini, tidak lagi hanya sekadar mempelajari aspek fungsional sebuah bahasa saja, tetapi juga merasa tertarik untuk mengkaji aspek linguistik, historis, perubahan sosial, dan nilai-nilai kebudayaan yang berkaitan dengan bahasa tersebut.

Contohnya mereka yang mempelajari bahasa Mandarin atas dasar motivasi kuadrain IV ini, mereka bukan lagi belajar bahasa Mandarin karena disuruh orang tua atau supaya bisa nonton film drama mandarin. Mereka betul-betul mencintai bahasa Mandarin sampai ke akar-akarnya. Mereka menyukai pelafalan dalam bahasa Mandarin, mereka menyukai karakter bahasa Mandarin, mereka merasa penasaran dengan evolusi akar bahasa Mandarin. Mereka menyukai sejarah dan budaya Tiongkok sebagai penutur bahasa Mandarin. Mereka bahkan merasa tertantang untuk memahami perbedaan akar bahasa yang serumpun, atau dialek kedaerahan yang masih berkaitan dengan bahasa Mandarin.

Menurut pengalaman gua, para pembelajar yang motivasinya didasari pada kuadran ini biasanya lebih cepat dalam belajar, cenderung lebih berkomitmen, dan juga konsisten dalam mendalami bahasa asing.

Jadi, kuadran motivasi mana yang harus dilakukan?
Menurut pendapat gue, idealnya seorang pembelajar baru akan bisa betul-betul berkomitmen menguasai bahasa asing dengan baik jika dasar motivasinya ada pada kuadran III atau IV.

PRINSIP 2 : Rencana Persiapan yang Terukur
Mempelajari bahasa asing itu tidak bisa sembarangan. Perlu ada perencanaan yang matang dalam belajar bahasa asing, agar usaha dan energi lo tersalurkan dengan tepat.

Pertama, coba tentukan target dulu, mau belajar bahasa apa, mencapai level mana. Kemudian, tentukan berapa berapa lama waktu yang lo rencanakan untuk mencapai target tersebut. Dalam menentukan target, sebaiknya jangan terlalu muluk-muluk atau menaruh target yang gak realistis ya. Ketimbang menentukan target yang tidak realistis, lebih baik tentukan target yang wajar asal lo menjalani proses belajar dengan enjoy dan konsisten.

Kedua, lo juga harus tahu seberapa sulit bahasa yang lo akan pelajari. Di artikel gue sebelumnya, gue sempat mencantumkan tabel tingkat kesulitan mempelajari bahasa, dari sudut pandang penutur bahasa Inggris.

Kemudian, siapkan juga semua equipment yang dibutuhkan, serta resources yang kredibel. Jangan mengambil referensi hanya dari hobi kasual atau pop-culture bahasa tersebut saja, misalnya dari game, atau film drama saja. Karena banyak sekali pengucapan dalam pop-culture itu yang tidak akurat, menggunakan bahasa tidak baku, dan penggunaan konteks yang berulang hanya pada topik itu-itu saja.

Contohnya, lo bisa cek beberapa resources seperti Rosetta Stone (PC Software), Duolingo (Mobile App), Nihongoichiban (Website belajar bahasa Jepang)

PRINSIP 3 : Proses Belajar yang Tepat

Setelah motivasi dan persiapan sudah mantap, baru deh, masuk ke proses belajar. Dalam memulai beelajar lo harus memerhatikan hal-hal berikut:

A. Vocabulary

Vocabulary atau kosakata mau tidak mau harus dihapal. Gimana caranya? Mulai dari kosakata sehari-hari, lebih bagus lagi kalau dipelajari secara tematik, misal lingkungan, keluarga, hobi, pekerjaan, dll. Supaya lebih bagus, buatlah list kosakata yang dikelompokkan menjadi kata kerja, kata benda, kata sifat, dll., ini akan mempermudah lo dalam menyusun kalimat.

Sekarang ini sudah semakin banyak software, apps, dan website yang memfasilitasi lo agar mudah menyerap vocab bahasa asing dengan efisien dan cepat. Contohnya seperti Duolingo.

B. Grammar

Grammar atau tata bahasa yang harus dipelajari meliputi Fonologi (cara ucap), Morfologi (cara membentuk kata), Sintaksis (aturan kalimat), Fonetik (bunyi dan simbol), Semantik (pemahaman makna), serta Pragmatika (pemaknaan konteks). Semua itu adalah aspek yang perlu dipelajari kalau lo mau penguasaan bahasa lo betul-betul menyeluruh, gak pincang cuma bisa reading doang atau listening doang.

Kok ribet, ya? Nggak juga. Apalagi kalau motivasi belajar lo sudah berada di kuadran III-IV, sebetulnya mempelajari hal-hal ini justru bisa menjadi hal yang menantang dan menyenangkan, loh!

C. Praktik

Praktik dalam belajar bahasa meliputi membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Di bagian ini biasanya sering terjadi miskonsepsi atau salah kaprah. Berikut adalah 2 kesalahan umum yang seringkali terjadi:

Kesalahan 1: “Yang penting berani ngomong dulu, grammar belakangan.”

Banyak orang awam (bahkan sebagian pendidik) yang mengatakan:

“yang penting berani ngomong dulu, grammarnya salah-salah nggak apa-apa, yang penting lawan bicara ngerti. Tabrak aja dulu, yang penting berani ngomong”
Memang betul bahwa ada bagusnya “jangan takut salah” jika pada tahap awal kita belajar masih kurang percaya diri. Namun dalam praktiknya, prinsip ini seringkali menjadi justifikasi atau disalahgunakan untuk tidak berkembang menjadi lebih baik lagi (baca: berbahasa dengan benar). Kebiasaan pembelajar di Indonesia adalah malas mengoreksi dan dikoreksi, sehingga sering banget membiarkan kesalahan berbahasa menjadi kebiasaan yang dimaklumi. Jangan takut mengoreksi atau dikoreksi, karena hal itu hanya akan menghambat kemajuan kita sendiri dalam belajar bahasa asing.

Kesalahan 2: “Yang penting bisa ngomong aja, nggak usah bisa baca-tulis.”

Kesalahan umum yang kedua, tidak jarang juga orang yang hanya ingin menguasai speaking & listening dalam bahasa asing, tapi tidak mau mengasah kemampuan membaca dan menulisnya. Mungkin menurut mereka, jika hanya mempelajari speaking & listening saja, bisa menghemat waktu yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah bahasa asing.

Menurut gua ini juga cara belajar yang keliru. Ibarat mau belajar masak sup ayam, tapi gak mau belajar motong wortel dan daun bawang, Cuma mau rebus ayamnya aja. Dalam praktiknya, mereka yang hanya ingin belajar speaking & listening saja tidak akan efisien dalam belajar, karena bahan referensi untuk mempelajari bahasa tersebut jadi sangat terbatas, karena gak mau belajar baca-tulis. Ujung-ujung, mereka yang hanya fokus pada aspek speaking & listening saja, seringkali akan terhambat dalam belajar dan bisa jadi kalah cepat dengan yang belajar secara menyeluruh.

PRINSIP 4: Maintenance
Karena bahasa adalah “skill-based knowledge”, maintenance atau pemeliharaan itu penting, loh. Mungkin di antara lo pernah lihat orang yang dulunya jago bahasa tertentu, tapi setelah beberapa lama kemampuannya menurun. Itu disebabkan oleh minimnya atau ketiadaan pemeliharaan (maintenance) bahasa.

Terus gimana dong? Intinya, penguasaan bahasa itu harus dipelihara secara rutin, tidak boleh dibiarkan “berkarat” di otak kita. Berikut ini beberapa hal yang bisa lo lakukan dalam upaya memelihara kemampuan berbahasa:

A. Eksposur

Expose-lah diri lo terhadap lingkungan atau kondisi yang kondusif dalam menyokong lo dalam belajar bahasa asing. Misalnya bergabung dalam komunitas bahasa tersebut di media sosial. Bisa juga dengan sering meluangkan waktu dalam hobi kasual yang berkaitan dengan bahasa tersebut, misalnya membaca buku atau komik, nonton film, mendengarkan musik, atau main video game yang menggunakan bahasa asing tersebut dan ditambah dengan menggunakan subtitles dalam bahasa tersebut.

Selain itu, gue juga menyarankan untuk mengubah setting bahasa di smartphone atau komputer lo ke bahasa yang sedang lo pelajari. Dengan begitu, lo secara tidak sadar akan menambahkan exposure terhadap bahasa tersebut dalam kegiatan sehari-hari.

B. Konsistensi

Ini bagian yang susah banget dijaga oleh banyak pembelajar bahasa asing. Masalah utamanya biasanya ada pada prinsip 1, yaitu motivasi belajar yang lemah. Kalo motivasi belajarnya dari awal sudah lemah, biasanya pembelajar jadi tidak konsisten. Jadi, pastikan lagi dasar motivasi lo kuat dalam mempelajari bahasa.

Tambahan tips dari gua untuk bisa lebih konsisten adalah mulai sesuatu dengan langkah kecil, tapi terus berkelanjutan. Contoh yang gue sendiri sarankan ke murid-murid gue adalah dengan teknik yang gue namakan Teknik Menabung. Mulai dengan belajar selama 10 menit setiap hari. Gunakan timer, per hari cukup belajar selama 10 menit, sampai lo terbiasa. Lakukan selama 1 minggu, 2 minggu, sampai lo nyaman, lalu tambahkan waktunya menjadi 20 menit. Ulangi prosesnya. Kalau lo sudah bisa mencapai tabungan belajar 60 menit per hari selama beberapa minggu, maka konsistensi lo sudah bagus.

https://www.zenius.net/